yeah ~ so beautiful XD

yeah ~ so beautiful XD

GO DENTIST !

“EFEK NON- TERAPI CAFFEIN PADA SISTEM KARDIOVASKULER ”

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI II

“EFEK NON- TERAPI CAFFEIN PADA SISTEM KARDIOVASKULER ”

Amalia Ihsani Hakim Silalahi

 

  1. I.               Pendahuluan

1.1    Latar Belakang

Setiap obat tidak luput dari efek samping . Misalnya pada penggunaan anti gatal, anti histamin chlortrimethone (CTM), pemakai akan mendapatkan efek terapi berupa berkurangnya rasa gatal ,namun mengalami efek samping berupa mulut kering , ngantuk dan sebagainya.Begitu pula dengan pengkonsumsian caffein yang memiliki efek samping dalam metabolisme tubuh.

1.2    Tujuan

Untuk memperlihatkan efek dalam mengkonsumsi minuman sehari –hari yang mengandung kafein terhadap sistem kardiovaskular.(1)

  1. II.  Pelaksanaan

2.1    Alat dan Bahan

Alat :

–          Jam

–          Spigmomanometer

–          Steteskop

Bahan :

–          Larutan kopi Nescafe 1 sendok teh, 200cc air panas

–          Larutan decaeffeinated

2.2     Teknik Pelaksanaan

Pelaksanaan

Pada percobaan  ini dibutuhkan dua orang sebagai  sukarelawan. Pada sukarelawan I akan diberikan Larutan decaeffeined, sedangkan pada sukarelawan ke II akan diberikan Larutan kopi Nescaffe .

Pengamatan

Pada kedua sukarelawan :

–          Meminum minuman yang telah disediakan sebanyak 200ml

–          Setelah itu, mulut dapat dibilas dengan 50 ml air sehingga semua tertelan.

Sebelum meminum Larutan yang telah disediakan, Tekanan darah (TD) dan Denyut nadi (DN)diukur terlebih dahulu, sebanyak 2 kali yaitu 15menit dan 1 menit sebelum percobaan. Setelah meminum kedua larutan , kedua sukarelawan akan diukur kembali tekanan darah. Denyut nadi dan Denyut jantung.

 

 

  1. III.                  Hasil Percobaan

 

Sampel I : Dewi wulandari                                                 

Sampel II : Winda Chairunnisa

Pengamat untuk sampel I: Amalia Ihsani H. Silalahi

Pengamat untuk sampel II : Rizqa Ayunda dan Widya Julianti

 

Dari tabel dapat disimpulkan bahwa pada sampel I atau sampel A tidak mengandung caffein. Hal ini dapat diamati dari tekanan drah, denyut nadi dan denyut jantung sampel baik setelah mengkonsumsi zat A. Sedangkan dalam sampel II atau sampel B  mengandung Caffein . Kandungan kaffein tersebut terlihat jelas pada denyut jantung  sampel B yang semakin meningkat. Namun, untuk pengkonsumsian kaffein secara rutin dapat menyebabkan terjadinya toleransi.

 

  1. IV.                  Diskusi

 

Caffein senyawa yang  mengandung gugus metilxantine  berbentuk kristal dan berasa pahit. Caffein bersifat merangsang jantung (cardiac stimulation ) yakni relaksasi otot polos. Efek ini dikatakan terjadi karena metilxantin menghambat kerja Phosphodiesterase (PDE). Selain itu, metilxantine  juga dikatakan menghambat secara kompetitif reseptor adenosine di presynaptic noradrenergic neuron sehingga terjadi penglepasan noradrenalin , dan inilah yang menyebabkan efek stimulan dari caffein. Kafein memiliki berat molekul 194.19 dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan pH 6.9 (larutan kafein 1% dalam air). (1,2,7)

 Image

(gambar)

Sumber kafein tidak hanya berasal dari kopi. Jenis makanan dan minuman yang mengandung kafein: (8)

  1. Minuman soda dan cola, biasanya mengandung 23-25 miligram kafein.
  2. Cokelat, terdapat 10 miligram kafein.
  3. Es krim terdapat 30-45 miligram kafein.
  4. Pil penghilang rasa sakit. Dalam takaran yang sedikit, kafein dapat menghilangkan sakit kepala kita. Tetapi jika takarannya semakin banyak, kafein menjadi pemicu sakit kepala kita
  5. Minuman berenergi. 

 

Farmakodinamik Kafein

Kafein mempunyai efek relaksasi otot polos, terutama otot polos bronchus, merangsang  susunan saraf pusat, otot jantung, dan meningkatkan dieresis .(2,3)

a. Jantung

Kadar rendah kafein dalam plasma akan menurunkan denyut jantung, sebaliknya kadar kafein  dan teofilin yang lebih tinggi menyebabkan tachicardi, bahkan  pada individu yang sensitif mungkin menyebabkan aritmia yang berdampak kepada kontraksi ventrikel yang premature.

b. Pembuluh darah

Kafein menyebabkan dilatasi pembuluh darah termasuk pembuluh darah koroner dan pulmonal, karena efek langsung pada otot pembuluh darah

c. Sirkulasi Otak

Resistensi pembuluh darah otak naik disertai  pengurangan aliran darah dan O2 di otak, ini diduga merupakan refleksi adanya blokade adenosineoleh Xantin

d. Susunan Saraf Pusat

Kafein merupakan perangsang SSP yang kuat. Orang yang mengkonsumsi kafein tidak terlalu merasa kantuk, tidak terlalu lelah, dan daya pikirnya lebih cepat serta lebih jernih. Tetapi, kemampuannya berkurang dalam pekerjaan yang memerlukan koordinasi otot halus (kerapian), ketepatan waktu atau ketepatan berhitung. Efek diatas timbul pada pemberian kafein 82-250 mg (1-3 cangkir kopi).

e. Diuresis

Kafein dapat menyebabkan diuresis dengan cara meninggikan produksi urin atau menghambat reabsorbsi elektrolit ditubulus proksimal. Akan tetapi efek yang ditimbulkan sangat lemah.

 

Farmakologi Kafein

            Kafein adalah stimulan dari sistem saraf pusat dan metabolisme, digunakan secara baik untuk pengobatan dalam mengurangi keletihan fisik dan juga dapat meningkatkan tingkat kewaspadaan sehingga rasa ngantuk dapat ditekan. Kafein juga merangsang sistem saraf pusat dengan cara menaikkan tingkat kewaspadaan, sehingga fikiran lebih jelas dan terfokus dan koordinasi badan menjadi lebih baik .(2, 4,7)

Dalam dunia kedokteran , caffein sering digunakan sebagai perangsang kerja jantung dan meningkatkan produksi urin. Dalam dosis yang rendah kaffein dapat berfunsi sebagai bahan pembangkit stamina dan penghilang rasa sakit.Mekanisme kerja kaffein adalah menyaingi fungsi adenosin  (salah satu senyawa yang dalam sel otak bisa membuat orang cepat tidur). Caffein akan membalikkan semua kerja adenosin sehingga membuat tubuh tidak mengantuk. Tetapi yang muncul adalah perasaan segar. Sehingga berbagai jenis minuman pembangkit stamina umumnya mengandung caffein sebagai bahan utamanya.(4)

 

Dampak lain yang ditimbulkan dalam pengkonsumsian kaffein secara berlebihan adalah menyebabkan insomnia , mudah gugup, merasa tegang, cepat marah dan tidak dianjurkan pada wanita hamil yang dapat menyebabkan keguguran. Selain itu caffein juga memiliki efek dopin atau ketergantungan. Kecanduan ini  dapat terjadi jika telah mengkonsumsi lebih dari 600mg caffein atau setara dengan 5-6cangkir kopi perhari selama 8-15 hari berturut-turut. Dosis yang berakibat fatal adalah sekitar 10gram caffein atau 20-50 cangkir perhari. Dosis yang sedang dan diangggap tidak menyebabkan efek negatif adalah 300mg .(4,5)

 

Farmakokinetik Kafein

Kafein diabsorpsi secara cepat pada saluran cerna dan kadar puncak dalam darah dicapai selama 30 hingga 45 menit. Pada orang dewasa yang sehat jangka waktu penyerapannya adalah 3-4 jam,  sedangkan pada wanita yang memakai kontrasepsi oral waktu penyerapan adalah 5-10 jam. Pada bayi dan anak memiliki jangka waktu penyerapan lebih panjang (30 jam). Kafein dapat melewati plasenta dan lapisan darah-otak dikarenakan sifatnya yang hidrofobik . Molekul kafein secara struktural mirip dengan adenosin, dan mengikat reseptor adenosin pada permukaan sel tanpa mengaktifkan mereka (sebuah “antagonis” mekanisme tindakan). Oleh karena itu, kafein bertindak sebagai inhibitor kompetitif.

Kafein diuraikan dalam hati oleh sistem enzim sitokhrom P 450 oksidasi 

kepada 3 dimethilxanthin metabolik, yaitu :

a. Paraxanthine (84%), mempunyai efek meningkatkan lipolisis, mendorong pengeluaran gliserol dan asam lemak bebas didalam plasma darah

b. Theobromine (12%), melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan volume urin. Theobromine merupakan alkaloida utama didalam kokoa (coklat)

c. Theophyline (4%), melonggarkan otot saluran pernafasan, digunakan pada pengobatan asma.

 

Hati merupakan tempat utama dalam proses metabolisme kafein. Masing masing dari hasil metabolisme ini akan dimetabolisme lebih lanjut dan akan dikeluarkan melalui urin. Waktu paruh kafein-waktu yang diperlukan untuk tubuh untuk menghilangkan satu-setengah dari jumlah kafein – sangat bervariasi antar individu berdasarkan faktor-faktor seperti usia, fungsi hati, kehamilan, beberapa obat bersamaan, dan tingkat enzim dalam hati yang dibutuhkan untuk metabolisme kafein. Pada orang dewasa sehat, yang kafein paruh sekitar 4,9 jam. Pada wanita menggunakan kontrasepsi oral, ini meningkat menjadi jam 5-10, dan pada wanita hamil waktu paruhnya adalah sekitar 9-11 jam. (4)

 

Kafein dapat berakumulasi pada individu dengan penyakit hati yang berat, meningkatkan paruhnya hingga 96 jam. Pada bayi dan anak-anak muda, paruh dapat lebih lama dibandingkan orang dewasa; paruh pada bayi baru lahir dapat selama 30 jam. Faktor-faktor lain seperti merokok dapat mempersingkat itu paruh kafein. Fluvoxamine mengurangi clearance kafein 91,3%, dan lama eliminasi paruhnya dengan 11,4 kali lipat (dari 4,9 jam menjadi 56 jam). Waktu paruh eliminasi berkisar antara 3 -7 jam dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, meliputi jenis kelamin, usia, penggunaan kontrasepsi oral, kehamilan dan merokok. Telah dilaporkan bahwa waktu paruh kafein pada wanita lebih singkat dibandingkan dengan laki-laki .(4, 6)

 

  1. V.  Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

Jumlah yang tepat dari kafein yang diperlukan untuk menghasilkan efek berbeda dari orang ke orang, tergantung pada ukuran tubuh dan tingkat toleransi terhadap kafein. Dalam pengkonsumsian caffein memiliki manfaat dan bahaya . Dalam  pengkonsumsian berlebihan akan menimbulkan efek negatif seperti dopin (kecanduan) yang dapat memicu penyakit jantung. Selain itu caffein juga dapat menimbulkan perubahan pada warna gigi , bau mulut, meningkatkan stres, kemandulan pada pria, gangguan pencernaan, bahkan penuaan dini. Manfaat caffein sering digunakan dalam dosis yang sedikit adalah sebagai pembangkit stamina dan penghilang rasa sakit. (2,4)

5.2 Saran

Semoga dengan praktikum praktikum caffein ini ,Mahasiswa mampu memahami konsep dasar kerja dan efek samping dalam pengkonsumsian caffein.

 

 

 

  1. VI.                  Rujukan
    1. Buku penuntun praktikum Farmakologi . Departemen farmakologi dan therapeutik fakultas kedokteran universitas sumatera utara
    2. Departemen Farmakologi dan therapeutik fakultas kedokteran universitas Indonesia. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2009: 259-272.
    3. Katzung G B,eds Bagian farmakologi fakultas kedokteran airlangga .Farmakologi dasar  dan klinik . Jakarta: Penerbit salemba Medica,2001.
    4. Kadrie I. Kaffein. http://ifahkadrie.blogspot.com/2012/03/kafein.html. (Akses 7 april 2012)
    5. Anonymous. Manfaat caffein dan bahayanya. http://oabat-kanker-payudara.acepsuherman.biz/obat-alami/manfaat-kafein-dan-bahayanya/. (akses 07 april 2012)
    6. Anonymous.Kaffein farmakologi. http://www.news-medical.net/health/Caffeine-Pharmacology-(Indonesian).aspx. (akses 07april)
    7. Anonymous. Kaffein berbahayakah ? http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kafein_senyawa_bermanfaat_atau_beracunkah/. (akses 08april2012)
    8. Anonymous. http://www.tipsmu-tipsku.com/2012/01/waspadai-kandungan-kafein-selain-pada.html. (akses 08april2012)

 

 

 

 

AGONIS DAN ANTAGONIS KERJA SINERGISME SUPRA – ADDISI DARI OBAT


AGONIS DAN ANTAGONIS

KERJA SINERGISME SUPRA – ADDISI DARI OBAT

 

  1. I.               Pendahuluan

1.1    Latar Belakang

Sistem syaraf simpatis merupakan suatu pengaturan penting terhadap aktivitas organ seperti jantung dan pembuluh darah perifer, terutama dalam responnya terhadap keadaan stres. Efek dari perangsangan simpatis diperantarai oleh pelepasan noreprinefrin dari ujung syaraf yang akan memacu adrenoseptor pada bagian pascasinaptik. Dalam bereaksi terhadap stress, kelenjar adrenal akan melepas epinefrin dari ujung syaraf yang diedarkan dalam sirkulasi menuju jaringan sasaran.Obat-obat yang meniru kerja epineprin dan nonepineprin ini disebut obat simpatomimetik yang diperkirakan akan memberi efek yang luas pada tubuh.

 

1.2 Tujuan

Untuk memperlihatkan efek interaksi obat (efek kerja kombinasi obat-obatan) .(1)

  1. II.  Pelaksanaan

2.1    Alat dan Bahan

Alat :

–          Pipet Tetes

–          Pupilometer

–          Lampu senter

–          Kapas

–          Jam

Bahan :

–          Larutan 1,5% Atropin ,

–          Larutan 1,5% Adrenalin HCl

–          Pilocarpin

–          Sulfasatropin

–          Kelinci (Rabbit) yang berwarna putih

 

2.2     Teknik Pelaksanaan

Pelaksanaan

Sebelum percobaan dilakukan , maka terlebih dahulu  dilakukan observasi pada oculi dextra/sinistra kelinci dalam interval waktu tertentu yaitu :

  1. Diameter  pupil (dalam mm) jarak horizontal kedua pinggir paling lateral pupil
  2. Besar bola mata : normal , menonjol keluar  (exophathalamus), menonjol kedalam (enaphalimus)
  3. Reflex ancaman (refleks cornea) menggunakan kapas atau tissue
  4. Reflex cahaya baik direk dan indirek
  5. Sekresi kelenjar air mata
  6. Konsistensi bola mata :keras/ lunak
  7. Kelainan Gerakan bola mata (misal Seperti nystagmus )
  8. Kelainan Palpebra (misalnya ptosis atau jatuhnya palperba)

Pengamatan

Setelah melakukan observasi, kemudian tetesi mata kanan kelinci dengan 3 tetes larutan Adrenalin pada mata kiri dan kanan (dilakukan secara bertahap). Kemudian amati efek yang ditimbulkan.

Kemudian Pada menit ke sepuluh teteskan kembali mata kanan dengan larutan adrenalin dan Atropin . Perhatikan kembali efek yang ditimbulkan .

  1. III.                  Hasil Percobaan

 

Pada mata Kanan  : Adrenalin  dengan Adrenalin

Pada mata kiri : Adrenali dengan atropin

 

 

 ( WID INI DI LANGKAH1 LEMBAR NANTI HASIL DITEMPEL AJA)

 Mekanisme Kombinasi Atropin + Adrenalin

Dari hasil yang di dapati  Penambahan adrenalin pada atropine akan memperpanjang masa kerja obat serta meningkatkan penyebaran molekul yang masuk ke SSP.  Sehingga Kombinasi antara atropin dan adrenalin  disebut potensial. Dimana atropin menambah masa kerja Adrenalin.

Dalam hal ini kelinci sebagai sampel memiliki enzim khusus satropin esterase yang membuat proteksi lengkap terhadap efek toksik atropine dengan mempercepat metabolisme obat. Efek obat antimuskarinik pada mata lainnya  adalah mengurangi sekresi air mata. Selain itu kombinasi atropin dengan adrenalin menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan untung mengakomodasi sehingga mata tidak dapat memfokus untuk melihat dekat.(5)

Mekanisme Kombinasi Adrenalin + adrenalin. Otot dilator pupil radialis iris mengandung reseptor alfa, oleh karena itu aktivitas dengan obat seperti adrenalin akan menyebabkan midriasis. Pacu alfa dan beta berefek penting pada tekanan dalam bola mata. Penambahan adrenalin akan memperpanjang waktu paruh obat sehingga midriasis pada mata berlangsung lama. Kombinasi antara adrenalin dan adrenalin disebut Supra adisi dimana hasil kombinasi meinimbulkan efek yang lebih besar pula.

 

 

  1. IV.             Diskusi
    1. A.    ATROPIN

Atropin (hiosiamin) ditemukan dalam tumbuhan Atropa Belladonna, atau Tirai Malam Pembunuh, dan dalam Datura Stramonium, atau dikenal sebagai biji jimson ( biji Jamestown) atau apel berduri. Anggota tersier kelas atropine sering dimanfaatkan efeknya untuk mata dan system syaraf pusat.(2,3,4)

FARMAKOKINETIK

  1. a.       Absorbsi :  Alkaloid alam dan kebanyakan obat-obat antimuskarinik tersier diserap dengan baik dari usus dan dapat menembus membrane konjuktiva. Reabsobsinya diusus cepat dan lengkap, seperti alkaloida alamiah lainnya, begitu pula dari mukosa. Reabsorbsinya melalui kulit dan mata tidak mudah.
  2. b.      Distribusi : Atropin dan senyawa tersier lainnya didistribusikan meluas kedalam tubuh setelah penyerapan kadar tertentu dalam susunan saraf pusat (SSP) dicapai dalam 30 menit sampai 1 jam, dan mungkin membatasi toleransi dosis bila obat digunakan untuk memperoleh efek perifernya. Didistribusikan keseluruh tubuh dengan baik.
  3. c.        Metabolisme dan Ekskresi : Atropin cepat menghilang dari darah setelah diberikan dengan massa paruh sekitar 2 jam kira-kira 60% dari dosis diekskresikan kedalam urine dalam bentuk utuh. Sisanya dalam urine kebanyakan sebahagian metabolit hidrolisa dan konjugasi. Efeknya pada fungsi parasimpatis pada semua organ cepat menghilang kecuali pada mata. Efek pada iris dan otot siliaris dapat bertahan sampai 72 jam atau lebih. Ekskresinya melalui ginjal, yang separuhnya dalam keadaan utuh. Plasma t1/2 nya 2-4 jam.

FARMAKODINAMIKA

Mekanisme Kerja.

Atropine memblok aksi kolinomimetik pada reseptor muskarinik secara reversible (tergantung jumlahnya) yaitu, hambatan oleh atropine dalam dosis kecil dapat diatasi oleh asetilkolin atau agonis muskarinik yang setara dalam dosis besar. Hal ini menunjukan adanya kompetisi untuk memperebutkan tempat ikatan. Hasil ikatan pada reseptor muskarinik adalah mencegah aksi seperti pelepasan IP3 dan hambatan adenilil siklase yang di akibatkan oleh asetilkolin atau antagonis muskarinik lainnya. Efektifitas obat muskarinik bervariasi dan bergantung pada jaringan  yang di observasi. Jaringan yang memiliki kesensitifan tinggi terhadap atropine adalah kelenjar ludah , bronkial dan kelenjar keringat. Atropine sangat selektif terhadap reseptor muskarinik. Penggunaan Atropine terhadap mata dapat menimbulkan efek pelebaran pupil dan berkurangnya akomodasi (2,3)

Efek Pada Sistem Organ

  1. Susunan Saraf Pusat

Tremor pada Penyakit Parkinson dapat dikurangi dengan obat anti muskarinik. Pada dosis normal, atropine merupakan stimulant ringan terhadap Sistem saraf pusat terutama pada pusat parasimpatis medulla. Dalam dosis toksik ,Atropine juga menimbulkan kegelisahan, agitasi, halusinasi, bahkan  koma.

  1. Mata

Otot konstriktor pupil tergantung pada aktivitas kolinoseptor muskarinik. Aktivitas ini secara efektif dihambat oleh atropine topical dan obat antimuskarinik tersier hasilnya aktivitas dilator simpatis yang tidak berlawanan dan midriasis (pupil yang melebar) .

Efek penting kedua pada mata dari obat antimuskarinik adalah kelumpuhan otot siliaris, atau sikloplegia. Akibat sigloplegia ini terjadi penurunan kemampuan untung mengakomodasi ; mata yang teratropinisasi penuh tidak dapat memfokus untuk melihat dekat. Kedua efek midriasis dan sigloplegia berguna dalam pftalmologi. Namun efek ini juga cukup berbahaya karena pada pasien dengan sudut kamar depan yang sempit akan menimbulkan gejala glaucoma akut. Efek obat antimuskarinik pada mata lainnya  adalah mengurangi sekresi air mata. Pemberian dosis besar menyebabkan matakering dan  berpasir.

  1. Sistem Kardiovaskuler

Atrium sangat kaya dipersyarafi oleh serabut syaraf parasimpatis (n.vagus), dan oleh karena itu nodus SA peka terhadap hambatan reseptor muskarinik. Efek denyut jantung yang terisolasi, dipersarafi, dan secara spontan memukul jantung berupa hambatan perlambatan vagus yang jelas dan takikardia relative. Bila diberikan dosis terapi sedang sampai tinggi, maka efek takikardi nampaknya dapat menetap pada pasien tertentu. Namun, dalam dosis kecil justru memacu pusat parasimpatis dan sering menimbulkan gejala brakikardia awal sebelum efek hambatan terhadap vagus perifer menjadi jelas.

  1. Sistem Pernafasan

Obat anti muskurarinik sanat berguna pada pasien asma atau penyakit paru obstruktif menahun. Obat antimuskarinik sering digunakan sebelum anastesi inhalasi untuk mengurangi akumulasi sekresi di trakea dan kemungkinan spasme laring.

  1. Saluran Cerna\

Efek obat anti muskarinik pada sekresi saliva menyebabkan mulut kering . Dalam Hal ini atropine hanya sedikit mempengaruhi  sekresi pankreas dan intestinal.

  1. Kelenjar Keringat

Termoregulasi keringat di tekan pula oleh atropine. Reseptor muskarinik pada kelenjar keringat ekrin dipersarafi oleh serabut kolinergik simpatetik dan dapat dipengaruhi oleh obat antimuskarinik. Hanya pada dosis tinggi efek antimuskarinik pada orang dewasa akan menimbulkan peninggian suhu tubuh. Sedangkan pada bayi dan anak-anak maka dalam dosis biasapun sudah menimbulkan demam atropine (atropine fever).

 

 

B. ADRENALIN

Adrenalin adalah sebuah hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh kita. Tidak hanya gerak, hormon ini pun memicu reaksi terhadap efek lingkungan seperti suara derau tinggi atau cahaya yang terang. Reaksi yang kita sering rasakan adalah frekuensi detak jantung meningkat, keringat dingin dan keterkejutan.(6)

Adrenalin (epinefrin) yang merupakan zat adrenergikini dengan efek alfa + beta adalah Bronkchodilata terkuat dengan kerja cepat tetapi singkat yang digunakan untuk serangan asma yang hebat. Seringkali senyawa ini dikombinasikan dengan tranguillizer peroral guna melawan rasa takut dan cemas yang menyertai serangan. Secara oral, adrenalin tidak aktif.(1,6)

Mekanisme Adrenalin

Adrenalin selalu akan dapat menimbulkan vasokonstriksi pembuluh darah arteriel dan memicu denyut dan kontraksi jantung sehingga menimbulkan tekanan darah naik seketika dan berakhir dalam waktu pendek. Betabloker akan selalu juga menghambat frekuensi dan konduksi jantung pada dosis terapi dan morfin juga selalu akan mengurangi rasa sakit dan menghambat pernapasan dalam dosis lebih besar. Semua reaksi ini merupakan dose-dependent reactions yang nyata. Dengan demikian banyak obat lain bisa kita golongkan kedalamnya seperti kontaseptif oral, insulin, dsb. Obat sejenis ini termasuk daftar Obat Esensial.(3)

            Efek samping

Efek samping berupa efek sentral (gelisah, tremor, nyeri kepala) dan terhadap jantung (palpasi,aritmia), terutama pada dosis lebih tinggi. Timbul hiperglikemia, karena efek anti diabetika oral diperlemah.(2,3,5)

  1. Pembuluh darah

Tonus otot polos vascular diatur oleh adrenoreseptor; oleh karena itu, katelokamin menjadi penting dalam mengatur tahanan vaskuler perifer dan kapasitas vena.. pembuluh darah kulit dan daerah splanknikus didominasi oleh reseptor alfa dan akan berkontraksi bila ada adrenalin.

  1. Jantung

Efek langsung pada jantung ditentukan terutama oleh reseptor beta. Reseptor beta meningkatkan kalsium kedalam sel otot jantung, dengan segala akibat perubahan listrik dan mekaniknya.

  1. Tekanan darah

Efek obat simpatomimetik terhadap tekanan darah dapat diuraikan berdasarkan efeknya terhadap jantung, tahanan vaskuler perifer, dan aliran balik vena.

  1. Mata

Otot dilator pupil radialis iris mengandung reseptor alfa; oleh karena itu aktivitas dengan obat seperti adrenalin akan menyebabkan meridiasis.Sementara antagonis Beta menurunkan produksi cairan bola mata, efek ini sangat penting dalam pengelolaan glaukoma (penyebab utama kebutaan). Pacu alfa dan beta berefek penting pada tekanan dalam bola mata.

 

  1. V.  Kesimpulan dan Saran

5.1          Kesimpulan

Efek interaksi obat dikenal 2 macam yaitu : Sinergisme dan Antagonisme

Bila dua obat bekerja sama terhadap satu sasaran untuk membuat tanggapan yang lebih besar daripada dampaknya masing-masing, cara kerja dua obat semacam ini disebut supra addisi seperti halnya dalam adrenalin dengan adrenalin. Bila satu obat memperkuat dampak obat lain dengan cara meningkatkan tingkat obat yang lain tersebut dalam darah, hal ini disebut potensial (a+b=lebih banyak b daripada yang biasa).Seperti kombinasi Adrenalin dengan  atropin.(1,3)

Atropin (hiosiamin) ditemukan dalam tumbuhan Atropa Belladonna, atau Tirai Malam Pembunuh, dan dalam Datura Stramonium, atau dikenal sebagai biji jimson ( biji Jamestown) atau apel berduri. Adrenalin adalah sebuah hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh kita. Tidak hanya gerak, hormon ini pun memicu reaksi terhadap efek lingkungan seperti suara derau tinggi atau cahaya yang terang. Reaksi yang kita sering rasakan adalah frekuensi detak jantung meningkat, keringat dingin dan keterkejutan.(1,6)

 

5.2  Saran

Semoga dengan praktikum praktikum ini ,Mahasiswa mampu memahami konsep dasar kerja dan efek samping dari atrofin dan adrenalin pada masing masing resptornya.

 

  1. VI.                  Rujukan
    1. Buku penuntun praktikum Farmakologi . Departemen farmakologi dan therapeutik fakultas kedokteran universitas sumatera utara
    2. Departemen Farmakologi dan therapeutik fakultas kedokteran universitas Indonesia. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2009: 259-272.
    3. Katzung G B,eds Bagian farmakologi fakultas kedokteran airlangga . Buku I Farmakologi dasar  dan klinik . Jakarta: Penerbit salemba Medica,2001. 184-203
    4. Anonymous. Farmakologi. http://polobye.blogspot.com/2011/03/definisi-farmakodinamik.html. (akses  12 april 2012)
    5. Anonymous. Efek adrenali dan atropin di mata. http://www.rachmadan.com/2012/01/definisi-dan-ruang-lingkup-farmakologi.html. (akses  12 april 2012)
    6. Anonymous. Adrenalin . http://copyaskep.wordpress.com/tag/adrenalin/ (akses  12 april 2012)

 

 

ASPEK EFEK SAMPING DAN TOKSISITAS ZAT ANATESI LOKAL

I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Kontrol nyeri yang baik akan membantu dalam penangan pasien. Dengan adanya kontrol nyeri dapat mengurangi rasa takut dan kecemasan pada pasien. Menurut istilah, anestesi local (anestesi regional) adalah hilangnya rasa sakit pada bagian tubuh tertentu tanpa desertai dengan hilangnya kesadaran. Anastesi lokal merupakan salah satu yang dapat mengontrol rasa sakit tersebut. Anestesi local memblok secara reversible pada system konduksi saraf pada daerah tertentu sehingga terjadi kehilangan sensasi dan aktivitas motorik.

1.2 Tujuan

Untuk memperlihatkan blokade konduksi saraf bila di bubuhi obat secara lokal dengan konsentrasi yang cukup.(1)

II. Tinjauan Pustaka
Anastesi adalah setiap zat yang digunakan untuk tujuan menghilangkan sensasi nyeri baik diseluruh tubuh ketika tidak sadar (anastesi umum) atau bebebrapa bagian dari tubuh (bius lokal). Jenis anastesi dibedakan atas: Anastesi umum adalah jenis anastesi obat yang dapat menyebabkan hilang nya rasa sakit selama proses pembedahan dan Anastesi lokal yang bekerja yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Kokain , suatu alkaloid yang terdapat pada Erythroxylon coca adalah Anastesi lokal pertama yang ditemukan (2)
Sifat anastesi lokal sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen . Batas kemampuan haruslah lebar . Mula kerja nya haruslah sesingkat mungkin sedangkan masa kerjanya harus cukup lama. Serta harus dapat larut dalam air ,stabila dalam larutan , dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan.(2)

Secara kimia anastesi lokal dapat digolongkan atas senyawa ester dan amid. Pada golongan ester, seperti : tetrakain, benzokain, kokain dan prokain cenderung kurang stabil dan mudah mengalami metabolisme. Sedangkan golongan amid seperti : lidokain, buvikain ,dibukain,mevikain, prilokain cenderung stabil. (2,3)

Mekanisme kerja obat anastesi lokal ialah dengan bergabung dengan resptor spesifik yang terdapat pada kanal Na, sehingga mengakibatkan perbadaan blokade pada kanal tersebut.hal ini meyebabkan hambatan gerakan ion melalui membran.
Anastesi lokal lebih peka terhadap serabut saraf yang kecil dan dan tidak bermielin. Bila anatesi lokal dikenakan pada saraf sensorik, maka yang hilang berturut –turut dalah nyeri, panas, raba dan tekanan. Sebaliknya , anastesi akibat penekanan serabut saraf ditandai dengan rasa rab apada awal dan nyeri yang paling akhir. Sehingga diduga impuls rasa raba dihantarkan oleh serabut yang lebih besar , sedangkan nyeri oleh serabut yang lebih kecil.(2)
Jika kadar obat dalam darah menigkat terlalu tinggi, maka akan timbul efek pada berbagai sistem organ.(1,4)

a) Sistem Saraf Pusat seperti ngantuk, kepala terasa ringan, gangguan visual dan pendengaran, dan kecemasan. Pada kadar yang lebih tinggi, akan timbul pula nistagmus dan menggigil. Akhirnya kejang tonik klonik yang terus menerus diikuti oleh depresi SSP dan kematian yang terjadi untuk semua anestesi local termasuk kokain.
b) Sistem Saraf Perifer (Neurotoksisitas), Bila diberikan dalam dosis yang berlebihan, semua anestesi local akan menjadi toksik terhadap jaringan saraf.
c) Sistem Kardiovaskular, dapat menghambat saluran Na jantung sehingga menekan aktivitas pacu jantung, eksitabilitas, dan konduksi jantung menjadi abnormal.
d) Darah, Pemberian prilokain dosis besar memberi efek penumpukan metabolit o-toluidin, suatu zat pengoksidasi yang mampu mengubah hemoglobin menjadi methemeglobin. Bila kadarnya cukup besar maka warna darah menjadi coklat.
e) Reaksi alergi
Reaksi ini sangat jarang terjadi dan hanya terjadi pada sebagian kecil populasi
Salah satu anastesi lokal yang umum digunakan adalah Lidokain (Xilokain). Lidokain merupakan anestetik local yang kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian topical dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain yang merupakan golongan ester. Secara farmakokinetik Lidokain mudah diserap dari tempat suntikan, dan dapat melewati sawar darah otak. Kadarnya dalam plasma fetus dapat mencapai 60% kadar dalam darah ibu. Di dalam hati, lidokain mengalami deakilasi oleh enzim oksidase fungsi ganda (Mixed-Function Oxidases ) membentuk monoetilglisin xilidid dan glisin xilidid. Efek samping lidokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP, misalnya mengantuk, pusing, parestesia, gangguan mental, koma, dan seizures. Lidokain dosis berlebihan dapat menyebabkan kematian akibat fibrilasi ventrikel, atau oleh hentijantung (2,4)

Lidokain sering digunakan secara suntikan untuk anesthesia infiltrasi, blockade saraf, anesthesia epidural ataupun anesthesia selaput lender. Pada anesthesia infitrasi biasanya digunakan larutan 0,25% – 0,50% dengan atau tanpa adrenalin. Tanpa adrenalin dosis total tidak boleh melebihi 200mg dalam waktu 24 jam, dan dengan adrenalin tidak boleh melebihi 500 mg untuk jangka waktu yang sama. Dalam bidang kedokteran gigi, biasanya digunakan larutan 1 – 2 % dengan adrenalin; untuk anesthesia infiltrasi dengan mula kerja 5 menit dan masa kerja kira-kira satu jam dibutuhkan dosis 0,5 – 1,0 ml. untuk blockade saraf digunakan 1 – 2 ml.

Lidokain dapat pula digunakan untuk anesthesia permukaan. Untuk anesthesia rongga mulut, kerongkongan dan saluran cerna bagian atas digunakan larutan 1-4% dengan dosis maksimal 1 gram sehari dibagi dalam beberapa dosis. Pruritus di daerah anogenital atau rasa sakit yang menyertai wasir dapat dihilangkan dengan supositoria atau bentuk salep dan krem 5 %. Untuk anesthesia sebelum dilakukan tindakan sistoskopi atau kateterisasi uretra digunakan lidokain gel 2 % dan selum dilakukan bronkoskopi atau pemasangan pipa endotrakeal biasanya digunakan semprotan dengan kadar 2-4%.Lidokain juga dapat menurunkan iritabilitas jantung, karena itu juga digunakan sebagai aritmia.(2,4)

III. Pelaksanaan
   3.1 Alat dan Bahan
        Alat :
– Kapas
– Semprit injeksi tuberculin
– Jarum injeksi
– Lampu bunsen
– Jarum untuk penusuk
– Jam
– Mancis /korek api

Bahan :
– Larutan anastesi lokal zat A dan Zat B

3.2 Metode percobaan
      Pelaksanaan
Pada percobaan ini sukarelawan akan di suntikkan 0,2 cc larutan anastesi lokal secara intrakutan. Bagian volar dari lengan mahasiswa sukarelawan dibersihkan dengan larutan alkohol 70%. Oleskan sebagian daerah kulit yang telah dibersihkan dengan Tinct. Yodii dan hilangkan kelebihannya dengan alkohol. Bila kulit kering , lakukan penyuntikan 0,22 cc anastesi secara intrakutan. Lingkaran dengan garis menengah 5mm akan terbentuk jiak injeksi dilakukan dengan tepat.
Pengamatan
Setelah dilakukan penyuntikan , maka dilakukan observasi terhadap sensasi sebagai berikut :
– Panas (temperatur)
Menggunakan Sentuhan jarum penusuk yang sudah di panaskan dengan api pembakar bunsen , pada lingkaran suntikan daerah yang telah di tandai.
– Sakit (pain)
Ditusuk pada bagian yang telah di tandai.
– Perabaan (touch)
Menggunakan kapas , yang kemudian disentuhkan ke bagian yang telah ditandai.
– Penekanan (pressure)
Menggunakan alat yang ujungnya tumpul kemudian pada daerah yang telah di tandai.
Observasi terhadap masing masing sensasi diamati pada umumnya setiap 5menit selama 60 menit. (1)

IV. Hasil Percobaan

Bahan : Zat A (lidokain)
Pelaksana : Riska Ayunda
Tanggal : 30 Maret 2012

                   0 5 10 15 20 25 30 dst
Panas          + – – – + + + +
Sakit            + – – – + + + +
Perabaaan    + – – – + + + +
Penekanan   + – – – – + + +

Keterangan : (+) terasa (-) tidak terasa

V. Diskusi

Pada percobaab zat A anastesi lokal dikenakan saraf sensorik, maka yang hilang berturut –turut dalah nyeri, panas, raba dan tekanan. Pada zat A hanya bekerja kurang dari 30 menit Sedangkan pada Zat B terjadi akibat penekanan serabut saraf ditandai dengan rasa raba pada awal dan nyeri yang paling akhir. Sehingga diduga impuls rasa raba dihantarkan oleh serabut yang lebih besar , sedangkan nyeri oleh serabut yang lebih kecil. Daanya penambahan zat adrenalin pada zat B ,menyebabkan masa zat B yang dapat berkerja lebih dari 60menit lebih lama daripada zat A
VI. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Anestesi local (anestesi regional) adalah hilangnya rasa sakit pada bagian tubuh tertentu tanpa desertai dengan hilangnya kesadaran. Anestesi local merupakan aplikasi atau injeksi obat anestesi pada daerah spesifik tubuh.Kemudian, Pada teknik anastesi ini kita lakukan penghambatan jalannya penghantar rangsangan dari pusat perifer. Dikenal dua cara yaitu : Nerve blok yaitu : anestesi lokal dikenakan langsung pada syaraf, sehingga menghambat jalannya rangsangan dari daerah operasi yang diinnervasinya. Field blok yaitu: disuntikkan pada sekeliling lapangan operasi, sehingga menghambat semua cabang syaraf proksimal sebelum masuk kedaerah operasi.
Saran
Semoga dengan praktikum anastesi lokal ini Mahasiswa mampu memahami konsep dasar kerja dan nasib obat anastesi lokal dalam tubuh dan efek samping obat

Continue reading

wisuda ^-^

Image

TEKNIK HOME SEBAGAI PENDEKATAN TINGKAH LAKU ANAK (HOME Technique As A Behavioral Approach To Children Who Are Affraid)

TEKNIK HOME SEBAGAI PENDEKATAN TINGKAH LAKU ANAK (HOME Technique As A Behavioral Approach To Children Who Are Affraid)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.